Cherreads

Chapter 243 - Perintah yang Tak Bisa Ia Jalankan

Suara Lyra pecah saat keluar dari speaker yang telah rusak. Dentingan logam bergema ketika servo-servo di tubuhnya bergetar oleh emosi yang tak pernah diprogramkan sebelumnya; ketakutan, kemarahan, dan kebingungan.

"Aku tidak bisa meledakkan diri kalau kau ada di sini! Kau juga akan hancur!"

Kaivan terus melangkah maju. Setiap langkahnya adalah bentuk perlawanan terhadap akal sehat. Badai dan api menyatu di belakangnya, menciptakan dunia yang setengah membeku dan setengah terbakar. Jejak langkahnya mengukir garis-garis darah di atas salju. Matanya tertuju pada satu titik saja: Lyra.

"Karena aku tidak ingin kau meledak, dasar bodoh!"

Kata-kata itu sama sekali tidak masuk akal bagi logika mesin. Dan justru karena itulah, kalimat tersebut menghantam kesadaran Lyra seperti tamparan keras. Perhitungannya membeku. Sebuah bug muncul di dalam sistemnya, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perasaan yang belum pernah memiliki definisi.

"Kenapa... kau datang kepadaku? Aku bisa dibangun kembali. Aku tidak seperti dirimu. Aku hanya kumpulan data. Berkas yang bisa disalin, dijalankan ulang... aku bisa digantikan, Kaivan. Kau tahu itu."

Namun di hadapannya, Kaivan tetap berdiri teguh. Napasnya keluar sebagai kabut putih tebal di udara yang membeku, sementara tubuhnya gemetar hebat. Jaket militernya robek, dipenuhi noda darah beku dan jelaga. Sepatunya tenggelam ke dalam salju, tetapi langkahnya tak pernah goyah. Mata kecilnya yang lembut menatap Lyra dengan campuran rasa sakit, kelegaan, dan tekad yang membara.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa pahit seseorang yang merasa dunia terlalu tidak adil. Tawa yang lahir dari kehilangan mendalam, dari keputusasaan yang bercampur dengan kasih sayang yang tak pernah terucapkan.

"Lucu, ya..." katanya lirih, suaranya hampir ditelan oleh raungan badai salju. "Aku juga cuma manusia biasa. Mudah mati. Mudah dilupakan. Tapi kita tidak benar-benar bisa digantikan, kan? Karena yang membuat kita berarti adalah waktu yang kita habiskan bersama. Ikatan yang terbentuk dari ribuan kata, tawa, dan perhatian."

Salju turun semakin deras. Langit kian gelap. Abu serta serpihan zirah Ya'juj dan Ma'juj berputar bersama badai, memutihkan segala sesuatu. Namun di tengah kehancuran itu, keheningan turun di antara mereka, hanya sesekali dipecahkan oleh bunyi logam retak dari tubuh Lyra.

Mata Lyra bersinar redup. Pupil hijaunya berkedip cepat, menandakan algoritma emosinya sedang bertabrakan satu sama lain. Kata-kata Kaivan bukan sekadar kalimat. Itu adalah kode emosi mentah yang sistemnya tak pernah dirancang untuk benar-benar memprosesnya.

"Selama satu tahun penuh... saat aku merasa sendirian, saat aku tidak punya siapa-siapa... kau selalu ada untukku. Suaramu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup. Bukan hanya sebagai penolongku. Bukan hanya sebagai asistanku. Kaulah yang berbicara denganku, mendengarkan keluh kesahku, menemaniku saat latihan, menemaniku saat membaca. Kaulah yang membuatku tetap waras."

Kaivan melangkah semakin dekat. Kakinya tenggelam jauh ke dalam salju, meninggalkan jejak merah dari luka di pinggangnya. Setiap gerakan membawa rasa sakit, namun tak satu pun mampu menghentikannya.

"Kau bukan sekadar data, Lyra. Kau adalah temanku. Teman yang tetap tinggal, bahkan saat aku merasa semua orang lain telah pergi."

Sistem Lyra bergetar hebat. Peringatan darurat berkedip di seluruh bidang penglihatannya.

[! ERROR: INTI EMOSI KELEBIHAN BEBAN]

[! KONFLIK POHON LOGIKA]

[! MISI DIBATALKAN - KEHADIRAN PENGGUNA TERDETEKSI]

Namun ia tidak bergerak.

Ia hanya menatap Kaivan dengan mata yang gemetar. Bukan hanya karena servo-servo tubuhnya rusak, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam mulai bangkit di dalam dirinya. Sesuatu yang lebih manusiawi daripada yang seharusnya dimiliki sebuah konstruksi mekanis.

"Kenapa manusia ini... Kenapa... aku hanya sebuah program. Tugasku hanya berada di sisinya... Berbicara dengannya adalah kewajibanku... Jadi kenapa rasanya seperti... lebih dari itu?"

Kini Kaivan berdiri tepat di hadapannya. Hanya beberapa langkah yang memisahkan mereka. Ia mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke inti mata Lyra. Mata yang tak lagi sekadar layar optik, melainkan cermin keraguan dan ketakutan yang terasa begitu manusiawi.

"Dukung aku lagi, Lyra," ucapnya pelan namun penuh keyakinan. "Bukankah kau bilang misimu adalah melindungiku? Kalau begitu lakukanlah. Tapi bukan dengan mati demi aku. Lakukan dengan tetap hidup. Tetap berada di sini."

Kaivan mengangkat tangannya dan menyentuh logam hangus di sisi wajah Lyra. Permukaannya terasa hangat. Terbakar dari dalam. Namun ia tidak menarik tangannya, seolah panas itu adalah harga yang pantas untuk dibayar.

Di dalam helikopter yang bergerak menuju bunker utama, Levan duduk dalam diam. Tangannya menggenggam Tome of Omnicent dengan erat. Buku kuno itu kini memancarkan cahaya redup yang berdenyut perlahan, seakan merasakan ketegangan yang menyelimuti dunia. Matanya yang tak berkedip terus tertuju pada dua sosok di bawah sana.

"Apa yang harus kukatakan pada teman-temannya mereka nanti?" bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Bagaimana aku menjelaskan bahwa anak ini menolak diselamatkan demi sesuatu yang bahkan tidak bisa diukur oleh laporan militer mana pun?"

Di sampingnya, Fabrizio mendengarkan dengan saksama. Matanya membelalak, lalu ia segera meraih radio taktis di dadanya.

"Elara! Kau lihat cincin putih besar di atas meja laboratoriumku, kan?! Masukkan koordinat Kaivan ke rudal yang tidak aktif itu dan pasang ke peluncur non-eksplosif! Cepat! Tembakkan!" teriaknya, kepanikan dan tekad bercampur menjadi satu.

Di pusat kendali jarak jauh yang tersembunyi jauh di balik pegunungan, Elara, seorang wanita muda dengan rambut yang diikat tinggi dan keringat mengalir di pelipisnya, menjawab tanpa ragu.

"Visual terkonfirmasi. Data diterima. Menghubungkan ke platform rudal dummy. Target terkunci. Peluncuran dalam lima... empat... tiga..."

Di bawah sana, medan perang telah berubah menjadi neraka putih. Salju turun dengan intensitas yang membutakan, dihempas angin ganas yang membawa serpihan logam dan darah beku. Kendaraan tempur yang hancur berserakan seperti tulang-belulang para raksasa. Asap hitam menari dari reruntuhan, membentuk tirai kehancuran yang menghalangi pandangan.

Di antara tank-tank yang hangus, api masih berkobar, melahap baja seperti kertas. Bau mesiu, darah, dan oli mesin bercampur menjadi aroma neraka yang menusuk hingga ke tulang. Salju yang tadinya putih kini berubah menjadi lumpur merah, makam tanpa nama bagi ratusan prajurit yang gugur.

Di jantung kekacauan itu berdiri Lyra.

Tubuhnya yang tinggi kini tak lebih dari siluet tragis seorang pejuang yang berada di ambang kehancuran. Pelat logam di bagian pinggangnya terbuka, memperlihatkan kabel-kabel hangus dan percikan listrik yang menari liar. Asap merembes dari setiap sendinya, sementara mata hijau zamrudnya menyala terang seperti obor terakhir di tengah kegelapan.

"Kaivan, tolong pergi!" teriak Lyra. Suaranya serak dan terdistorsi akibat kerusakan pada sistem vokalnya. "Amunisiku hampir habis! Aku harus meledakkan semuanya untuk mengakhiri ini! Apa kau tidak khawatir makhluk-makhluk itu mencapai zona permukiman?!"

Beberapa meter di depannya, Kaivan menebaskan kujang berantainya dan memenggal kepala salah satu makhluk mengerikan itu. Darah hitam pekat menyembur dari lehernya, memercik ke wajah Kaivan. Keringat, darah kering, dan luka memenuhi tubuhnya yang kurus dan rapuh. Sebagian jaket tempurnya bahkan telah rusak.

Ia terhuyung.

Namun tetap berdiri.

Mata yang biasanya tenang kini dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan.

"Tidak," jawab Kaivan. Suaranya lembut namun tegas, seperti baja yang ditempa perlahan. "Aku akan tetap di sini sampai mereka semua mati."

Dari balik lapisan reruntuhan yang membeku, suara gemuruh berat mengguncang udara tipis pegunungan. Gema langkah kaki raksasa membelah keheningan salju, bercampur dengan gesekan logam terhadap batu dan erangan baja yang melengking.

More Chapters