Cherreads

Chapter 2 - OSIS di SMA

Pipit mengadakan acara pemilihan OSIS waktu SMA kelas 11 dan saat itu pipit masih SMA , dia melakukan kreasi setiap bulan, kegiatan seperti lomba basket, mading cerpen dan acara perlombaan serta kegiatan ekstra kulikuler, pipit menulis cerpen

Dan setelah itu, pembagian eks. Skull kami bertemu di MIPA kelas 10 kami semua bertemu termasuk irna, dia menceritakan tentang liana dan liana selalu menyemangati untuk masuk jurusan di ilmu pengetahuan alam, tapi orang tua menginginkan saya di ilmu pengetahuan sosial

Saat duduk di IPS pipit yang IPA mengadakan pemilihan OSIS, mereka mengelilingi kelas mengadakan suara lewat kertas, lalu dy mengumpulkan dan hasilnya yang terpilih waktu itu kak aqiq kakak kelas IPA, setiap perlombaan mereka tulis di mading, kami sangat menyukai kakak kelas pebasket, tinggi dan tampan idaman perempuan satu sekolah saat itu

Pipit setelah pergi ke ruang OSIS acara basket diadakan 10 hari lagi, semua cewek bersiap untuk 10 hari kedepan termasuk cheerleaders

Pipit : " Kak kapan ini disusun acara schedule tentang perlombaan olahraga seantar SMA,, tinggal 10 hari "

Aqiq: " Tenang dek, nanti ada bagian nya dalam percetakan undangan dari sekertaris ke SMA lain didaerah ini "

Pipit: " Des, kamu udah tulis kan semua sama irna? "

Aqiq :"iya nanti bagian akomodasi akan mengirimkan undangannya "

Setelah itu, 10 hari tiba, gw, naila dan yang lain duduk sambil melihat pertandingan, Pipit dan yang lain juga melihat pertandingan,Maa syaa Allah tabarakallahu nya Pipit jalan bareng sama pebasket itu, OMG kita semua teriak saat acara cheerleaders itu, ada lelaki juga sebagai pandu cheers, ronde basket pertama dimulai "priiitttttt..... " Bunyi peluit, eh mereka mengganti dengan bell lonceng sekolah, lalu semua menyemangati kakak tampan itu 😍

Reza paling tampan dimata gw, " Nell, liat deh kak reza gemesin banget "

Nella: " Iya kan, pokonya anak SMA kita harus menang "

Reza" Menatap gw dengan muka sumringah "

"Tuh kan nell dy tau gw penggemarnya wkwkkwk, "

Padahal saat itu gw liatin raka terus 😋😜

Pipit menjalani menjalani kelas selesai SMA langsung kuliah, tapi saat kuliah semester pertama menuju kedua dia mengalami kecelakaan karena patah hati 💔😭

Bertemu saat gw udah kerja

Kemauan yang kuat membuat dia bertahan hidup

Percakapan dikolam renang, gw, Pipit

Pipit :" Wuoosshhh..., mengepakkan kaki berenang bersama ayahnya "

Elita: " Kamu Pipit ya, anak IPA? "

Pipit "iya, betul kaamu siapa? Kenal saya dimana? "

Elita :" SMA 8 bekasi, kan dulu ada OSIS, dan program ekskul IPA "

Pipit " Saya sedang melanjutkan kuliah, mengalami coma,belom bekerja, saya masa pemulihan berenang "

Elita :" Dengan nada datar, astagfirullahaladzim, untungnya kamu sehat pit,syafakallahu "

Dengan tertegun kami melakukan berenang lagi, sampai larut sore

Pipit :" Ta pamit ya pulang duluan"

Elita :" Iya pit" Saya melanjutkan berenang dengan mama yang pakai kerudung, "berenang ditempat dalam ternyata lebih ringan, cuma saya berhati -hati, mama selalu menyemangati berenang ditempat dalam

Setelah selesai berenang kami bilas dan mandi, lalu gw dan mama foto bersama

Fotonya masih tersimpan di 2026

Memang wanita setia itu butuh perjuangan mempertahankan kenangan yang ada, Indonesia itu mempertahankan adat timur , bersaudara, kami tidak melakukan pergaulan bebas, hanya saja olahraga itu penting untuk kesehatan, basket, berenang, volly, dan cheersleader , paskibraka, dan ospala( organisasi sekolah pencinta alam)

Kisah Elena anggota OSIS saat dirumah,

Seorang anak berusia delapan tahun tengah berkutat dengan buku-buku pelajarannya. Tepat saat mendengar suara pintu yang terbuka membuatnya langsung menoleh pada pintu utama. Ia menyunggingkan senyumnya menyambut kedatangan sang ayah. Namun, senyumnya memudar saat melihat kehadiran seorang anak laki-laki seusianya yang dirangkul oleh Hardi---nama ayahnya. Eleena bangkit dari duduknya dengan tatapan sinis yang menyergap anak laki-laki tersebut.

"Leen, Bunda mana?" tanya Hardi seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah.

Eleena tak menjawab. Netra hitamnya masih menyergap anak laki-laki yang tak berani mengangkat wajahnya.

"Bun... Ayah udah pulang..." teriaknya.

Seorang wanita muncul dari arah dapur dengan sebuah nampan di tangannya. Heni meletakkan nampan tersebut di atas meja. Ia kebingungan dengan anak laki-laki yang dibawa suaminya.

"Siapa, Yah?"

Hardi menampilkan senyum manisnya. Ia merangkul tubuh kecil anak yang ia temukan di jalan. Sewaktu ia pulang dari kantor, ia melihat seorang anak laki-laki yang tidur beralaskan kardus sambil memegangi perutnya. Karena tak tega, ia pun menghampirinya dan memberinya makanan. Setelah selesai, ia mulai mengajukan pertanyaan padanya. Namun, tak ada jawaban yang diberinya dari semua pertanyaan yang ia lontarkan. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa anak tersebut ke rumah dan berencana untuk mengangkatnya sebagai anak. Mengingat, ia dan istrinya hanya dikaruniai satu orang anak, itu pun seorang putri. Padahal, ia menginginkan seorang anak laki-laki yang nantinya akan dijadikan sebagai penerus bisnisnya. Namun, Tuhan masih belum mengabulkan do'anya. Dan mungkin anak laki-laki inilah jawaban dari do'anya.

"Nanti Ayah ceritakan, sekarang Bunda mandiin dia dulu ya?!" titahnya yang diangguki oleh istrinya.

Heni mengajak anak laki-laki tersebut menuju kamar mandi. Tanpa menjawab, anak tersebut mengikuti langkahnya dari belakang. Kini, tatapan Hardi beralih pada putrinya. Ia berjongkok menghadap malaikat kecilnya.

"Eleena, kalo Ayah angkat dia sebagai saudaramu bagaimana? Supaya Eleen tidak kesepian lagi?" tanyanya yang tak digubris sama sekali olehnya.

Eleena menatap tajam sang Ayah. Ia tak menyangka jika anak laki-laki itu akan menjadi saudaranya. Selama ini kasih sayang kedua orangtuanya hanya tercurah kepadanya saja, dan sekarang ia harus membagi kasih sayang tersebut pada anak laki-laki bisu itu. Ia mengatainya bisu karena tak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

"Eleena nggak mau, Yah!" tolaknya.

Bagaimana pun, ia sudah menyukai anak laki-laki itu dan ingin mengangkatnya sebagai anak.

"Ayah... Eleena... Liat deh, udah ganteng 'kan?!" teriak Heni membuat keduanya menoleh.

"Bunda! Itu 'kan, baju Eleen!! Kenapa dipake sama dia?!" teriaknya membuat Heni mendesah pelan.

"Nggak papa, nanti Eleen beli yang baru." Hardi mengelus rambut putrinya agar tenang.

Eleena mendecak sebal menatap Ayah dan Bundanya yang menggiring anak laki-laki tersebut menuju ruang keluarga. Kemudian, ikut menyusul mereka dengan langkah yang dihentakkan di lantai. Sesampainya di ruang makan, Eleena mendaratkan pantatnya dengan kasar di sofa yang berhadapan dengan Hardi dan anak tersebut. Ia memandang anak laki-laki tersebut dengan pandangan tak suka. Bagaimana tidak, ia berhasil menarik perhatian kedua orangtuanya dengan terus merapatkan mulutnya.

"Bisu kayaknya, Yah!" cetus Eleena yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kedua orangtuanya.

Eleena menghela napas. Entahlah, sudah banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut Hardi namun tak ada satu pun pertanyaan yang dijawabnya. Eleena semakin yakin, jika anak tersebut memanglah bisu. Tak bisa berbicara.

Hardi menatap lekat manik matanya. Ia bisa merasakan rasa takut yang dirasakannya. "Siapa namamu?" tanyanya seraya mengelus pucuk kepalanya.

Anak laki-laki tersebut menggeleng pelan. Ia masih tak berani menatap ketiga orang yang tengah menatapnya penasaran.

"Bagaimana kalau Ayah memberimu nama Arkanza Aydan Prayudha?" pungkas Hardi membuat sudut bibirnya terangkat. Sepertinya, ia menyukai nama yang diberikan Ayah angkatnya.

Eleena menatap tajam Ayahnya. Ia tak setuju. Nama yang diberikan Hardi terlalu bagus untuknya. "Ayah! Nama itu terlalu bagus untuk dia yang bisu!" protes Eleena.

More Chapters