Cherreads

Chapter 6 - negeri diatas awan

Saat anak kecil usia 12 tahun dia sangat menyukai lelaki yang lebih tua darinya , lalu dy bilang

Waktu sekolah

Anggita:"saya mau lihat teman saya begitu tinggi "

Hani:" Hai anggi, kamu sudah makan? Kenapa nengok keatas begitu "

Anggita:"ya kan saya pendek"

Hani :" Yaampun kenapa feri ngikutin anggi?

​"Laila: 'Mas Kurir Kok Wangi Parfum Mahal?', CEO: 'Iya, Ini Bau Keringat Kerja

Hani dan anggi masuk ke kelas, setelah lulus dan kami bertiga sering bertengkar, Laila dan samsudin menghampiri

"Kenapa terburu-buru, Mas?" Suara dari balik celah pintu itu terdengar jelas terperanjat. "Bukankah Mas bahkan belum melihat wajah saya?"

​Ramdhan menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang kian tak beraturan. Keyakinannya sudah bulat, melampaui logika visual yang biasanya diagungkan dunia.

​"Tanpa melihat wajah pun, Mas yakin kalau paras Adek pasti secantik namanya," jawab Ramdhan mantap.

​Secara tidak sadar, panggilan "Adek" meluncur begitu saja dari bibirnya. Ramdhan sendiri tidak tahu berapa usia pasti wanita di balik pintu itu, namun instingnya seolah menuntunnya untuk memberikan panggilan yang lebih akrab dan hangat.

​Hening kembali merayap. Wanita di dalam sana terdiam cukup lama, entah karena tersipu atau sedang menimbang beratnya kesungguhan dalam kata-kata Ramdhan.

​"Begini saja," suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tenang. "Kita bahas tentang lamaran ini setelah hari raya saja."

​Meskipun jawaban itu terkesan mengulur waktu, Ramdhan bisa menangkap secercah nada bahagia yang terselip di balik getaran suaranya. Ada binar yang tak terlihat, namun terasa nyata menembus kayu jati pintu itu.

​"Oh, baik. Itu lebih bagus," sahut Ramdhan dengan senyum yang tak kunjung surut.

​"Maaf ya, Mas. Saya cuma mau fokus ibadah dulu selama bulan Ramadhan," tambahnya lagi, seolah ingin memberikan alasan atas penundaannya.

​Ramdhan terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang. "Bukankah pernikahan itu juga ibadah? Bisa lebih banyak pahalanya jika menikah di bulan puasa."

​Terdengar tawa kecil yang sangat halus dari balik pintu—tawa yang membuat hati Ramdhan benar-benar merasa menang malam ini.

​"Mas ini ada-ada saja. Sudah malam, Mas. Sebaiknya Mas pulang sekarang," ucapnya lembut, namun kali ini terdengar lebih perhatian.

​"Baik, Dek. Mas pamit kalau begitu. Assalamu'alaikum."

​"Wa'alaikumsalam."

​Pintu itu tertutup perlahan, diiringi bunyi kunci yang diputar. Ramdhan berbalik dan melangkah menuju motor sewaannya dengan perasaan yang sangat ringan, seolah-olah beban ribuan ton yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap ke udara malam.

​Ia menyalakan motor butut yang suaranya berisik itu, namun di telinga Ramdhan, bunyi mesin tersebut terdengar semerdu simfoni. Ia melaju membelah jalanan malam yang tenang, melewati lampu-lampu jalan yang tampak lebih terang dari biasanya.

​Sesampainya di rumah mewah miliknya, Ramdhan masuk dengan langkah tegap. Ia tidak lagi mengendap-endap seperti p€nc uri yang menghindari orang tuanya. Saat melewati ruang tengah, ia melihat Ayah dan Ibunya masih duduk berbincang santai.

​"Baru pulang, Ramdhan?" tanya Ayahnya.

​Ramdhan menghentikan langkah, menoleh ke arah mereka dengan mata yang berbinar. "Iya, Yah. Aku baru saja mendapat jawaban yang sangat bagus."

​Ibu Ramdhan meletakkan cangkir tehnya, menatap putranya dengan penuh selidik namun penuh harap. "Tentang wanita yang namanya Bulan itu?"

​Ramdhan mengangguk mantap. "Iya, Bu. Insyaallah, setelah Lebaran nanti, Ramdhan akan membawa Ayah dan Ibu ke sana untuk melamar."

​Senyum merekah di wajah kedua orang tuanya. Suasana dingin yang selama ini menyelimuti rumah itu seolah mencair seketika. Ramdhan berpamitan untuk naik ke kamarnya, dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan senyum yang masih melekat di bibirnya. Ramadhan kali ini benar-benar membawa keberkahan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

***

Di sebuah sudut dapur yang bersahaja, cahaya lampu temaram memantul pada permukaan halus sebuah kue yang tersaji di atas meja. Laila masih bergeming, matanya terpaku pada detail dekorasi manisan itu seolah sedang mengagumi sebuah mahakarya seni yang rapuh. Senyumnya tak kunjung pudar, tersungging tipis namun penuh arti.

​"Mau sampai kapan Non Laila menatap kue itu?" suara Murni memecah keheningan. Asisten rumah tangga itu berdiri tak jauh di sampingnya, berkali-kali menelan ludah sembari memandangi kue yang tampak begitu menggoda selera.

​Laila terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Kue ini cantik sekali, Mbak Murni. Aku rasanya tidak ikhlas jika harus merusak bentuknya," ujarnya lirih, ada nada haru yang menyusup dalam kalimatnya. "Apalagi, ini pemberian dari lelaki yang dijodohkan denganku."

​Murni menggeser berdiri, mencoba membujuk dengan logika yang praktis. "Itu kan kue, Non. Seindah apa pun, kalau tidak segera dimakan, ujung-ujungnya hanya akan basi dan dibuang."

​Mendengar kekhawatiran Murni yang dibumbui rasa lapar, Laila akhirnya luluh. "Aku hanya bercanda, Mbak. Tenang saja, nanti aku bagi," ucapnya seraya meraih pi $4u pemotong. Dengan gerakan hati-hati, ia membelah kue lembut itu dan menyajikannya di atas piring kecil untuk Murni.

​Murni menerima bagiannya dengan mata berbinar. Begitu suapan pertama mendarat di lidah, ekspresinya berubah seketika. "Wah, enak banget kuenya, Non!" serunya takjub.

​Laila ikut mencicipi potongan kecil miliknya. Tekstur lembut dan rasa manis yang pas menari di rongga mulutnya, membawa kehangatan yang menjalar hingga ke hati. "Iya, memang enak sekali. Aku yakin Mas Samsudin sendiri yang meracik resep ini. Dia memang punya tangan dingin kalau urusan membuat kue."

​Murni mengangguk-angguk setuju, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa kue tersebut. Ia menatap Laila lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara rendah yang penuh selidik, "Terus bagaimana, Non? Apa Non Laila sudah mantap menerima perjodohan dengan Mas Samsudin?"

Hani, Laila ,samsudin, ferri dan anggita bekerja sama membuat bisnis agar tetap kokoh lalu mereka menjadikan semua hasil bakery diberbagai cabang enak

Iya, tapi kemarin di China ada negeri diatas awan dan ada tembok raksasa di China

Hani, Laila, mey, anggita dan ferri kesana bersama dwi dan li itu salah satu keajaiban dunia ya?

Itu di semester 2 saat liburan semester 1 ke 2 agar tidak terjadi hal yang diinginkan, eh ternyata disana kami bertemu teman mey karena dia kuliah di Guangzhou

Serta kami menceritakan indahnya lokasi di China bertemu ali dan orang-orang orang baik muslim lainnya

Setelah itu kami bertemu calon suamik li mas Yogi yang selalu menemani serta dany kami berlibur bersama dan silaturahmi dengan muslim cina disana dan seseorang kiyai disana

Kamipun sholat berjamaah dan menapaki tembok china

Digta pun ikut eh Rama pun ikut untuk pergi kesana anggita juga ikut

Semua terlihat happy dan mengucap syukur, kita membuat grup yang laki-laki dengan laki-laki dan perempuan-dengan perempuan

More Chapters