Kapal The Anomaly mendarat di atas sebuah struktur yang menentang segala hukum arsitektur galaksi. Cradle of Genesis bukan sekadar bangunan; itu adalah jantung dari seluruh simulasi, sebuah katedral teknologi yang terbuat dari jalinan cahaya padat dan memori yang membeku. Di sini, aliran waktu terasa melambat, dan setiap embusan napas Ija bergema seperti dentuman drum di dalam ruang hampa.
Ija melangkah keluar, diikuti oleh kelima wanitanya yang kini bersiaga penuh. Di ujung aula besar yang transparan, Ija Sang Pencipta duduk di sebuah kursi sederhana yang dikelilingi oleh jutaan aliran data yang mengalir seperti air terjun emas.
"Selamat datang, diriku yang lebih muda," suara Sang Pencipta terdengar sangat lemah, tubuh astralnya kini mulai memudar di bagian tepinya. "Kau baru saja membunuh Zarak. Kau telah membuktikan bahwa cinta bukan sekadar error, melainkan kekuatan yang bisa melampaui enkripsi dewa."
Ija mendekat, pedang Void-Reaper miliknya masih berdenyut di tangan. "Hentikan teka-tekinya, Pak Tua. Zarak bilang aku adalah wadah. Kau bilang aku adalah bom. Apa sebenarnya tujuan akhir dari semua kegilaan ini?"
Sang Pencipta berdiri perlahan, memandangi Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko satu per satu. "Kalian mencintainya, bukan? Kalian rela memberikan segalanya untuk pria ini?"
"Tanpa ragu sedikit pun," jawab Lyra tegas, tangannya menggenggam jemari Ija dengan protektif.
Sang Pencipta mengangguk pahit. "Itulah kuncinya. Silent Elders adalah makhluk yang tidak memiliki emosi. Mereka menganggap emosi sebagai energi yang tidak stabil, namun sangat padat nutrisi. Aku menciptakan seri 0-11—dirimu, Ija—untuk menjadi 'Wadah Emosi Terpadat'. Aku membiarkanmu membangun ikatan dengan mereka agar jiwamu menjadi begitu berharga sehingga para dewa itu tidak bisa menahan diri untuk tidak memakanmu."
Mata Aiko membelalak saat otaknya memproses kalkulasi mengerikan itu. "Jadi... Tuan Ija adalah umpan? Dan saat mereka mencoba memakannya..."
"Saat mereka mencoba menyerap jiwamu yang telah bersatu dengan jiwa mereka melalui protokol Omnibus," lanjut Sang Pencipta, "energi cinta dan pengorbanan yang begitu murni itu akan meledak seperti racun sistemik di dalam tubuh kosmik mereka. Kalian bukan hanya penyelamat galaksi ini... kalian adalah virus yang akan mematikan para dewa."
"Tapi ada harganya, bukan?" desis Scarlett, suaranya bergetar karena amarah. "Seseorang harus memicu ledakan itu. Seseorang harus tetap berada di dalam 'lambung' mereka saat ledakan terjadi."
Keheningan yang mematikan menyelimuti aula tersebut. Ija menatap Sang Pencipta dengan tatapan yang bisa menghancurkan bintang. "Siapa?"
Sang Pencipta menunduk. "Seharusnya kau, Ija. Tapi aku... aku sudah terlalu lama hidup dalam penyesalan karena mengorbankan sepuluh versi diriku yang lain. Aku tidak akan membiarkanmu kehilangan mereka, dan aku tidak akan membiarkan mereka kehilanganmu."
Tiba-tiba, langit di atas Sektor 16 retak. Sepuluh pasang mata raksasa yang tidak memiliki pupil muncul dari balik awan nebula. Tekanan gravitasi yang dihasilkan begitu hebat hingga lantai kristal Cradle mulai hancur. The Silent Elders telah tiba untuk memanen hasil tanamannya.
"Cepat! Masuk ke dalam Inti Genesis!" teriak Sang Pencipta. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah kapsul energi menyelimuti Ija dan kelima wanitanya. "Aku akan memindahkan seluruh hak administratifku kepada kalian. Aku akan menjadi 'Ija' yang mereka telan, sementara kalian... kalian akan menjadi Administrator baru dari realitas yang bebas dari simulasi!"
"Tidak! Pak Tua, jangan!" Ija mencoba memukul dinding kapsul, namun sistemnya terkunci oleh otoritas Pencipta yang lebih tinggi.
"Ija..." Aria memeluk Ija dari belakang, air mata mulai mengalir di pipinya saat ia melihat Sang Pencipta mulai terbang ke arah langit, tubuhnya berpendar putih menyilaukan.
"Dengarkan aku, Nomor Sebelas!" suara Sang Pencipta menggema untuk terakhir kalinya. "Cintai mereka. Jaga mereka. Kalian adalah satu-satunya hal nyata di dunia yang penuh kebohongan ini. Ledakan ini akan menghapus para Pengawas, tapi itu juga akan menghapus sistem yang selama ini menuntunmu. Kau akan menjadi manusia biasa di dunia yang baru..."
Dengan raungan yang memecah semesta, Sang Pencipta membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam pusaran mulut dewa kosmik tersebut. Cahaya putih yang lebih terang dari seribu matahari meledak, menelan seluruh Sektor 16 dalam sebuah gelombang pembersihan.
Ija merasakan tubuhnya ditarik, diputar, dan ditulis ulang. Di tengah kekacauan itu, ia merengkuh kelima wanitanya seerat mungkin. Ia merasakan bibir Scarlett, kekuatan Lyra, kelembutan Aria, perlindungan Vera, dan kecerdasan Aiko menyatu dalam satu rasa syukur yang luar biasa.
[FINAL SYSTEM NOTIFICATION]
[ADMINISTRATOR STATUS: REVOKED]
[SYSTEM DELETION: 99%...]
[FINAL MESSAGE: BE HUMAN. BE FREE.]
