Aku kembali kerumah dengan pikiran yang tak sama lagi .
Kata-kata mbah wiryo terus terngiang .
'' sing wis kebuka ... Ora gampang ditutup maneh ''
yang sudah terbuka ... Tidak mudah ditutup kembali .
Langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya .
Seolah aku tahu , malam ini tidak akan biasa .
Menjelang maghrib , aku sudah menyiapkan diri .
Tidak ada makan berlebihan
Tidak ada suara bising .
Hanya diam ...dan niat
Seperti yang diajarkan mbah wiryo .
malam pertama laku , ojo turu sak durunge tengah wengi .
Jangan tidur sebelum tengah malam .
Lampu sengaja diredupkan .
Hanya ada satu lilin kecil disudut ruangan .
Api lilin itu ... Anehnya tidak pernah benar benar diam .
Seperti bergerak pelan ... Mengikuti sesuatu yang tidak terlihat .
Aku mencoba menarik nafas perlahan .
Masuk ... Keluar ...
Menenangkan diri .
Tapi semakin sunyi , justru semakin terasa -
Aku tidak sendiri .
Jam menunjukkan pukul 23.47 .
Belum tengah malam .
Tapi hawa dikamar sudah berubah .
Lebih dingin .
Lebih berat .
Aku menahan diri untuk tidak menoleh kemana mana .
Fokus .
Itu yang harus kulakukan .
Tutup mata . Rasakan .Jangan dilawan .
pesan itu kuingat jelas .
Aku menutup mata .
Awalnya gelap .
Lalu perlahan ... Muncul bayangan .
Kabut .
Tipis .
Seperti sesuatu yang mulai terbentuk dari kejauhan .
Aku mencoba tetap tenang .
Tapi tiba-tiba -
" Krekk ..."
Suara itu terdengar .
Pelan ... Tapi jelas .
Seperti ada sesuatu yang bergeser diatas plafon .
Jantungku langsung berdegup keras .
Aku ingin membuka mata .
Tapi aku ingat -
jangan dilawan .
suara itu semakin dekat .
perlahan .
Menggeser .
Mengikuti ... Posisi tepat diatas ku .
Nafas dingin mulai terasa .
Padahal mataku masih tertutup
Aku bisa merasakannya
Dia ... Ada disana .
" Isih wani ...?
Suara itu muncul .
Pelan . Berat . Tepat di atas kepalaku .
masih berani ... ?
Aku menggenggam tanganku kuat-kuat .
Seluruh tubuhku ingin lari .
Tapi aku menahan .
Aku tidak boleh berhenti sekarang .
Tiba- tiba-
Api lilin disudut ruangan padam .
Seketika .
Tanpa angin ,
Gelap .
Total .
Mataku refleks terbuka .
Dan disitulah aku melihatnya .
Lebih jelas dari sebelumnya .
Perempuan tua itu .
Bukan lagi dilangit-langit .
Tapi ... Berdiri di depanku .
Sangat dekat .
Wajahnya kini terlihat jelas .
Kulitnya keriput , pucat keabu-abuan .
Matanya dalam ... Tapi hidup .
Dan senyum itu-
Masih sama .
Senyum yang tidak pernah terasa sebagai kebaikan .
" Kowe milih dalan iki ..."
Kamu memilih jalan ini .
Aku tidak menjawab .
Aku tidak bisa .
Tubuhku kaku ... Tapi pikiranku sadar sepenuhnya .
Aku ingin mudur .
Tapi tubuhku tidak bergerak .
Saat ujung jarinya hampir menyentuh -
"Aja diterusno nek durung siap!"
Keras . Tegas .
Suara mbah wiryo .
Dalam sekejap -
Sosok itu berhenti .
Diam .
Matanya berubah .
Bukan lagi menatapku ...
Tapi menatap kearah belakangku .
Aku tidak berani menoleh .
Tapi aku tahu -
Aku tidak sendiri lagi .
Perempuan tua itu perlahan mundur .
Satu langkah .
Dua langkah .
Dan sebelum menghilang-
Dia berbisik .
Pelan.
Tepat di telingaku .
" Tak enteni ... "
Aku menunggumu .
Gelap dikamar perlahan kembali normal .
Lilin disudut ... Menyala lagi .
Aku langsung terjatuh .
Tubuhku lemas .
Nafasku tidak teratur .
Ini baru laku pertama .
Dan aku hampir tidak kuat menjalaninya .
