Cherreads

Chapter 4 - Laku pertama ( tirakat awal mbah wiryo )

Aku kembali kerumah dengan pikiran yang tak sama lagi .

Kata-kata mbah wiryo terus terngiang .

'' sing wis kebuka ... Ora gampang ditutup maneh ''

yang sudah terbuka ... Tidak mudah ditutup kembali .

Langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya .

Seolah aku tahu , malam ini tidak akan biasa .

Menjelang maghrib , aku sudah menyiapkan diri .

Tidak ada makan berlebihan 

Tidak ada suara bising .

Hanya diam ...dan niat 

Seperti yang diajarkan mbah wiryo .

malam pertama laku , ojo turu sak durunge tengah wengi .

Jangan tidur sebelum tengah malam .

Lampu sengaja diredupkan .

Hanya ada satu lilin kecil disudut ruangan .

Api lilin itu ... Anehnya tidak pernah benar benar diam .

Seperti bergerak pelan ... Mengikuti sesuatu yang tidak terlihat .

Aku mencoba menarik nafas perlahan .

Masuk ... Keluar ...

Menenangkan diri .

Tapi semakin sunyi , justru semakin terasa -

Aku tidak sendiri .

Jam menunjukkan pukul 23.47 .

Belum tengah malam .

Tapi hawa dikamar sudah berubah .

Lebih dingin .

Lebih berat .

Aku menahan diri untuk tidak menoleh kemana mana .

Fokus .

Itu yang harus kulakukan .

Tutup mata . Rasakan .Jangan dilawan .

pesan itu kuingat jelas .

Aku menutup mata .

Awalnya gelap .

Lalu perlahan ... Muncul bayangan .

Kabut .

Tipis .

Seperti sesuatu yang mulai terbentuk dari kejauhan .

Aku mencoba tetap tenang .

Tapi tiba-tiba -

" Krekk ..."

Suara itu terdengar .

Pelan ... Tapi jelas .

Seperti ada sesuatu yang bergeser diatas plafon .

Jantungku langsung berdegup keras .

Aku ingin membuka mata .

Tapi aku ingat -

jangan dilawan .

suara itu semakin dekat .

perlahan .

Menggeser .

Mengikuti ... Posisi tepat diatas ku .

Nafas dingin mulai terasa .

Padahal mataku masih tertutup

Aku bisa merasakannya 

Dia ... Ada disana .

" Isih wani ...?

Suara itu muncul .

Pelan . Berat . Tepat di atas kepalaku .

masih berani ... ?

Aku menggenggam tanganku kuat-kuat .

Seluruh tubuhku ingin lari .

Tapi aku menahan .

Aku tidak boleh berhenti sekarang .

Tiba- tiba-

Api lilin disudut ruangan padam .

Seketika .

Tanpa angin ,

Gelap .

Total .

Mataku refleks terbuka .

Dan disitulah aku melihatnya .

Lebih jelas dari sebelumnya .

Perempuan tua itu .

Bukan lagi dilangit-langit .

Tapi ... Berdiri di depanku .

Sangat dekat .

Wajahnya kini terlihat jelas .

Kulitnya keriput , pucat keabu-abuan .

Matanya dalam ... Tapi hidup .

Dan senyum itu-

Masih sama .

Senyum yang tidak pernah terasa sebagai kebaikan .

" Kowe milih dalan iki ..."

Kamu memilih jalan ini .

Aku tidak menjawab .

Aku tidak bisa .

Tubuhku kaku ... Tapi pikiranku sadar sepenuhnya .

Aku ingin mudur .

Tapi tubuhku tidak bergerak .

Saat ujung jarinya hampir menyentuh -

"Aja diterusno nek durung siap!"

Keras . Tegas .

Suara mbah wiryo .

Dalam sekejap -

Sosok itu berhenti .

Diam .

Matanya berubah .

Bukan lagi menatapku ...

Tapi menatap kearah belakangku .

Aku tidak berani menoleh .

Tapi aku tahu -

Aku tidak sendiri lagi .

Perempuan tua itu perlahan mundur .

Satu langkah .

Dua langkah .

Dan sebelum menghilang-

Dia berbisik .

Pelan.

Tepat di telingaku .

" Tak enteni ... "

Aku menunggumu .

Gelap dikamar perlahan kembali normal .

Lilin disudut ... Menyala lagi .

Aku langsung terjatuh .

Tubuhku lemas .

Nafasku tidak teratur .

Ini baru laku pertama .

Dan aku hampir tidak kuat menjalaninya .

More Chapters