Seharian aku tidak tenang .
Bayangan perempuan tua itu terus muncul ... bahkan saat aku terjaga .
Bekas genggaman di tanganku masih ada . Tidak hilang .Tidak memudar . Justru terasa semakin dingin setiap kali ku sentuh.
Aku mencoba berfikir logis .
Mungkin hanya mimpi .
Mungkin hanya efek kelelahan .
Tapi ... Tidak ada mimpi yang meninggalkan bekas seperti ini .
Sore itu , aku memutuskan menemui seseorang .
Mbah Wiryo .
Orang tua di ujung desa yang sering disebut-sebut "aneh"
Oleh sebagian orang ... tapi diam-diam banyak didatangi saat ada hal yang tidak bisa dijelaskan.
Rumahnya sederhana . Sepi . Dikelilingi pohon tua yang membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya .
Aku mengetuk pintu .
Belum sempat tanganku turun—
" WIS teko , to ..."
Suara itu terdengar dari dalam .
Aku membeku .
Mbah Wiryo sudah berdiri disana, seolah sudah menungguku sejak tadi .
Matanya tajam... tapi tidak menakutkan .
Justru terasa seperti ... melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat .
" Masuk ."
Aku menurut .
Kami duduk berhadapan . Tidak ada basa-basi .
Belum sempat aku bicara—
" Kowe lagi mbukak dalan sing ora Kabeh wong wani mbukak ."
Aku terdiam .
Bahasanya halus ...tapi aku mengerti .
kamu sedang membuka jalanyang tidak semua orang berani membukanya .
Jantungku berdetak lebih cepat .
" Mbah ... Saya—"
" Puasa , ya ? "
Aku mengangguk pelan.
Beliau tersenyum tipis .
" Tirakatmu ora salah . Niatmu ugo ora salah."
Aku sedikit lega ... tapi hanya sesaat .
" Sing salah ... Kowe ora ngerti apa sing mbukak bareng Kuwi . "
Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri .
Aku menelan ludah .
" Maksudnya ... ?"
Mbah Wiryo menatap lurus ke arahku .
" Wingi bengi ... ana sing teko, to ?"
Aku langsung terdiam .
Beliau tahu .
Tanpa aku cerita apa pun.
" Itu ... Siapa Mbah?"
Beberapa detik hening .
Angin di luar terdengar pelan ... Seperti ikut menunggu jawaban.
" Itu sing nunggu Kowe. "
Darahku seperti berhenti mengalir .
" Menunggu .... saya ?"
Mbah Wiryo mengangguk pelan .
" Dudu anyar . Wis suwe ."
Bukan baru . Sudah lama .
Aku semakin tidak mengerti.
" Kowe nduwe gandhengane."
kamu punya ikatan dengannya .
Aku refleks melihat ke arah tanganku .
Bekas genggaman itu masih ada .
Seolah ... menjadi bukti .
" Mbah ... saya harus bagaimana ? "
Untuk pertama kalinya, suaraku benar-benar terdengar takut .
Mbah Wiryo menarik nafas panjang .
" Ana loro pilihan "
Aku menunggu .
" Nutup maneh ... Kabeh Iki . Balik dadi wong biasa ."
Hatiku langsung ingin memilih itu .
" Tapi ... "
Aku menatap beliau .
" Kowe kudu kuat . Amarga sing wis kebuka ...ora gampang ditutup maneh."
Aku terdiam .
Pilihan kedua ... terasa lebih berat , bahkan sebelum dijelaskan .
" Lanjutno ."
Satu kata itu diucapkan pelan ... tapi terasa dalam .
" Teruskan"
" Sinau . Ngerti . Lqn ngadepi. "
Belajar . Memahami . Dan menghadapi.
Aku menunduk .
Pikiranku kacau .
Ini bukan lagi sekedar gangguan .
Ini ... Jalan .
Dan aku sudah berdiri ditengahnya .
Tidak maju ... tidak ,mundur .
" Mbah ..."
Aku mengangkat kepala .
" Kalau saya lanjut ... apa yang akan terjadi ?"
Mbah Wiryo tersenyum tipis .
Bukan senyum menenangkan.
Tapi seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya ... Jauh sebelum aku bertanya .
" Kowe bakal weruh luwih akeh ."
Kamu akan melihat lebih banyak .
Aku menelan ludah .
" Dan ... "
Beliau menatap dalam ke mataku.
" Sing ndelok Kowe ... Uga bakalan tambah akeh ."
Dan yang melihatmu ... Juga akan semakin banyak .
