Cherreads

Chapter 3 - Orang yang mengerti

Seharian aku tidak tenang .

Bayangan perempuan tua itu terus muncul ... bahkan saat aku terjaga .

Bekas genggaman di tanganku masih ada . Tidak hilang .Tidak memudar . Justru terasa semakin dingin setiap kali ku sentuh.

Aku mencoba berfikir logis .

Mungkin hanya mimpi .

Mungkin hanya efek kelelahan .

Tapi ... Tidak ada mimpi yang meninggalkan bekas seperti ini .

Sore itu , aku memutuskan menemui seseorang .

Mbah Wiryo .

Orang tua di ujung desa yang sering disebut-sebut "aneh"

Oleh sebagian orang ... tapi diam-diam banyak didatangi saat ada hal yang tidak bisa dijelaskan.

Rumahnya sederhana . Sepi . Dikelilingi pohon tua yang membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya .

Aku mengetuk pintu .

Belum sempat tanganku turun—

" WIS teko , to ..."

Suara itu terdengar dari dalam .

Aku membeku .

Mbah Wiryo sudah berdiri disana, seolah sudah menungguku sejak tadi .

Matanya tajam... tapi tidak menakutkan .

Justru terasa seperti ... melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat .

" Masuk ."

Aku menurut .

Kami duduk berhadapan . Tidak ada basa-basi .

Belum sempat aku bicara—

" Kowe lagi mbukak dalan sing ora Kabeh wong wani mbukak ."

Aku terdiam .

Bahasanya halus ...tapi aku mengerti .

kamu sedang membuka jalanyang tidak semua orang berani membukanya .

Jantungku berdetak lebih cepat .

" Mbah ... Saya—"

" Puasa , ya ? "

Aku mengangguk pelan.

Beliau tersenyum tipis .

" Tirakatmu ora salah . Niatmu ugo ora salah."

Aku sedikit lega ... tapi hanya sesaat .

" Sing salah ... Kowe ora ngerti apa sing mbukak bareng Kuwi . "

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri .

Aku menelan ludah .

" Maksudnya ... ?"

Mbah Wiryo menatap lurus ke arahku .

" Wingi bengi ... ana sing teko, to ?"

Aku langsung terdiam .

Beliau tahu .

Tanpa aku cerita apa pun.

" Itu ... Siapa Mbah?"

Beberapa detik hening .

Angin di luar terdengar pelan ... Seperti ikut menunggu jawaban.

" Itu sing nunggu Kowe. "

Darahku seperti berhenti mengalir .

" Menunggu .... saya ?"

Mbah Wiryo mengangguk pelan .

" Dudu anyar . Wis suwe ."

Bukan baru . Sudah lama .

Aku semakin tidak mengerti.

" Kowe nduwe gandhengane."

kamu punya ikatan dengannya .

Aku refleks melihat ke arah tanganku .

Bekas genggaman itu masih ada .

Seolah ... menjadi bukti .

" Mbah ... saya harus bagaimana ? "

Untuk pertama kalinya, suaraku benar-benar terdengar takut .

Mbah Wiryo menarik nafas panjang .

" Ana loro pilihan "

Aku menunggu .

" Nutup maneh ... Kabeh Iki . Balik dadi wong biasa ."

Hatiku langsung ingin memilih itu .

" Tapi ... "

Aku menatap beliau .

" Kowe kudu kuat . Amarga sing wis kebuka ...ora gampang ditutup maneh."

Aku terdiam .

Pilihan kedua ... terasa lebih berat , bahkan sebelum dijelaskan .

" Lanjutno ."

Satu kata itu diucapkan pelan ... tapi terasa dalam .

" Teruskan"

" Sinau . Ngerti . Lqn ngadepi. "

Belajar . Memahami . Dan menghadapi.

Aku menunduk .

Pikiranku kacau .

Ini bukan lagi sekedar gangguan .

Ini ... Jalan .

Dan aku sudah berdiri ditengahnya .

Tidak maju ... tidak ,mundur .

" Mbah ..."

Aku mengangkat kepala .

" Kalau saya lanjut ... apa yang akan terjadi ?"

Mbah Wiryo tersenyum tipis .

Bukan senyum menenangkan.

Tapi seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya ... Jauh sebelum aku bertanya .

" Kowe bakal weruh luwih akeh ."

Kamu akan melihat lebih banyak .

Aku menelan ludah .

" Dan ... "

Beliau menatap dalam ke mataku.

" Sing ndelok Kowe ... Uga bakalan tambah akeh ."

Dan yang melihatmu ... Juga akan semakin banyak .

More Chapters