setelah beberapa minggu Liu kecil berlatih sendiri bahkan belajar Kultivasi dan membaca buku, serta melatih teknik yang ia baca dari buku peninggalan leluhur mereka, Liu kecil perlahan mulai sedikit lebih kuat, kecepatannya dan kekuatannya bahkan meningkat drastis. di siang hari, Liu kecil pergi ke sebuah hutan untuk mencoba berburu hewan sendiri tanpa di ketahui oleh yang lainya agar tidak di larang atau di marahi, setelah sampai di hutan dan bersembunyi di balik pohon, Liu kecil mulai mengamati hewan yang akan dia buru,sebuah hewan Rubah berekor sembilan, matanya sempat terpana karena kali pertama ia melihat hewan yang begitu cantik, dia sempat kehilangan fokusnya namun segera fokus pada hal yang ada di depannya. "baiklah rubah kecil, kau milikku."
Liu kecil melompat dari balik pohon, mengeluarkan pedangnya lalu mulai menerjang, tapi Liu kecil di kejutkan oleh hal tak terduga, Rubah itu berbicara."tolong jangan bunuh aku, aku adalah hewan spiritual tingkat tinggi, jika kau membunuhku kau akan mendapat kesialan."
Liu kecil berhenti dan dengan kebingungan dia menatap hewan itu. "hewan spiritual? apa itu?" Mata Liu kecil berbinar dengan rasa ingin tahu, mengurungkan niatnya untuk membunuhnya. "wajar saja kau tidak tahu, hmmm.... kau masih anak anak." perkataan itu membuat Liu kecil kesal. "siapa yang kau sebut anak kecil?" Liu kecil mengarahkan pedangnya ke leher rubah itu, Rubah itu panik dan mengangkat tangannya. "tidak, tidak, aku bercanda."
Liu kecil mengurungkan niatnya, lalu mulai menatap dan menganalisis rubah itu. "baiklah, aku tidak akan membunuhmu, tapi sebenarnya apa yang hebat darimu?"
rubah itu langsung memutar ekornya lalu memutar tubuhnya. "aku adalah tipe hewan spiritual langka yang di cari banyak orang, aku bisa membantu seseorang menembus hambatan Kultivasi, dan juga aku bisa meramal takdir seseorang."
kata kata rubah itu membuat Liu kecil bingung sekaligus terkejut, dia menatap rubah itu dengan bingung . "meramal masa depan?... bagaimana bisa nasib seseorang di ramal oleh seekor hewan."
rubuh kecil itu tersentak oleh pernyataan Liu kecil, dia dengan kesal menjawab. "aku bukan hanya rubah kecil, kau.. kau anak kecil tahu apa!, aku sudah hidup lebih dari 100 tahun." Liu kecil semakin penasaran, dia lalu terpikirkan sebuah ide.
"baiklah, jika perkataanmu benar, ayo ramal takdirku, jika kau bisa melihat takdirku, aku akan membiarkanmu pergi, tapi jika tidak bisa melakukannya aku akan memakanmu, membuatmu menjadi sup rubah lezat." rubah kecil itu merasa tertantang tapi juga takut mendengar implikasi dari ancaman tersebut, rubah itu langsung membuat formasi di tangannya lalu mengangkat jari jari kecilnya ke arah Liu kecil.
saat kesadaran rubah itu masuk ke dalam lautan takdir milik Liu kecil, dia tidak melihat apapun di masa depannya, saat dia melihat ke belakang hanyalah kekosongan yang tak ada batasnya, untuk memastikan bahwa penilainnya tidak salah, dia sekali lagi membuka celah masa depan Liu kecil, tiba tiba sebuah mata mengerikan dengan cahaya dan tatapan tajam menatapnya, sosok dengan kekuatan besar yang bisa menenggelamkan satu era hanya dengan seutas pikiranya membuat rubah kecil itu ketakutan, namun sebelum rubah kecil itu melihat sosok itu dengan jelas kesadaran rubah itu terpental keluar dari sungai takdir milik Liu kecil setelah melihat sosok kuat yang berpenampilan seperti seorang wanita dengan kekuatan yang berada di luar jangkauan manusia biasa , namun dia tidak bisa melihat dengan jelas seolah masa depan itu tidak boleh di lihat. "kau ini sebenarnya apa?".
kata rubah itu dengan terengah engah dan terkejut, dan juga menahan rasa sakit karena terluka oleh sosok yang membuatnya bisa lenyap kapan saja saat akan meramalkan takdirnya, yang membuat dia tidak bisa memakai kekuatan meramal masa depan untuk sementara waktu. "kau kenapa? apa kau sudah melihat takdirku?"
kata Liu kecil dengan semangat, namun rubah kecil itu hanya bisa menghela nafas. "takdirmu, aku bahkan tidak mengerti hal besar seperti apa yang menantimu, entah itu kesialan atau keberuntungan?"
Liu kecil menatapnya bingung, tidak mengerti apa yang dia maksud, karena rubah itu berhasil meramal takdirnya, Liu kecil melepaskannya lalu berbalik dan pergi."baiklah, aku menepati janjiku, kau sudah meramal takdirku, meski ramalanmu aneh, baiklah pergilah sebelum aku berubah pikiran." Liu kecil perlahan pergi dan menghilang ke arah lain, sementara rubah itu menatapnya dengan kebingungan dan ketakutan. "mungkinkan dia adalah sosok yang di takdirkan untuk berada di puncak tertinggi?"
rubah itu dengan pikiran yang teguh, dia berlari dan mengejar Liu kecil, saat dia menghampiri Liu kecil, rubah itu berdiri di depannya. "dengar, kau sudah membuatku seperti ini, jadi kau harus membawaku pergi denganmu."
Liu kecil menatapnya bingung. "kenapa aku harus membawamu?" rubah itu menjawab dengan gagap. "karena bagi ras rubah yang bisa melihat takdir, jika takdir yang kami ramal dari seseorang cocok, maka kami harus mengikutinya kemanapun dan kapanpun." Liu kecil menyilangkan tanganya sambil berpikir lalu muncul sebuah ide."baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi ingatlah, kau harus berguna untukku."
Liu kecil berjalan melewatinya dan berjalan pergi, sementara rubah kecil itu berjalan mengikutinya. "hei, jangan menganggapku lemah, kekuatanku bukan hanya bisa meramal takdir, tapi aku punya jurus tingkat langit." pernyataan itu membuat Liu kecil penasaran lalu Liu kecil menatapnya lalu tersenyum. "baiklah karena kau adalah pengikutku, kau harus mengajariku."
rubah kecil itu menghela nafas pasrah. "baiklah, ini juga salahku karena memberi tahumu." Liu kecil tertawa pelan lalu menatap rubah kecil itu. "baiklah, besok aku ingin berlatih dan melihat teknik langitmu itu." rubah kecil itu menghela nafas malas lalu menatap Liu kecil. "baiklah, tapi aku hanya akan menunjukan satu kali saja."
Liu kecil tersenyum lalu menyilangkan tangannya. "satu kali juga cukup."
rubah kecil itu mengangguk lalu dia menyilangkan tangannya. "namaku Cen`er."
Liu kecil tertawa kecil melihat tingkah aneh hewan rubah ini. "aku Liu Ren."
rubah kecil itu menatapnya dan seolah mengingat namanya dalam pikiranya lalu menggelengkan kepalanya."baiklah karena kau adalah Tuanku kau harus membawa dan memberi aku makan."
Liu kecil menatapnya lalu menghela nafas."kau jangan khawatirkan itu, semua orang di desaku semuanya pandai memasak masakan enak." mata rubah kecil itu membelalak senang. "benarkah? kau jangan berbohong padaku, kau harus segera membawaku pulang untuk makan!!."
Liu kecil tertawa kecil, lalu mengangguk. "baiklah rubah rakus aku akan membawamu pulang dan memberimu makan sampai kenyang."
