di malam harinya gadis kecil Liu duduk bersebelahan dengan kakeknya, menatap bintang malam yang berkelip. "kakek, aku ingin bertemu Ayah dan ibu"
ucap gadis kecil itu sembari memasang ekspresi sedih. "Gadis kecil, Ayah ibumu sedang melakukan misi yang sangat berbahaya demi keselamatan banyak orang"
meski harus berbohong sang kakek tidak bisa memberitahu begitu saja bahwa orang tuanya sudah tiada, apalagi di usianya yang masih begitu kecil.
"benarkah? apa ayah dan ibuku seorang pahlawan?" tanyanya dengan penuh antusian. "tentu saja, Ayah dan ibumu adalah seorang pahlawan bagi banyak orang, termasuk kamu"
sang kakek tersenyum lemah laku mengusap rambut Gadis kecil Liu."kakek, aku juga ingin menjadi pahlawan seperti mereka,,, apa aku bisa seperti ayah dan ibuku?". mendengar itu sang kakek hanya bisa menghela nafas pelan."tentu saja kau bisa jika kau punya tekad." sang kakek tahu bahwa jika Liu Ren pergi dan mulai menjelajahi dunia luar maka hidup dan mati Liu Ren adalah hal yang tak pasti. "kalau begitu, saat aku sudah dewasa aku ingin menyelematkan banyak orang seperti Ayah dan ibuku" Liu Ren berdiri dan mengepalkan tangannya ke dadanya,menatap langit berbintang dengan tatapan penuh harapan, sementara kakeknya hanya bisa menatapnya dengan ekspresi senang namun khawatir. "baiklah gadis bodoh, ayo tidur ini sudah malam".
"baik " kata Liu kecil serempak dengan semangat baru.
keesokan harinya, Liu kecil berlatih kembali seperti biasanya dengan kakeknya, pelatihan khusus untuk menjadi seorang Kultivator, Liu Ren duduk di atas batu dan mengikuti contoh yang kakeknya berikan. "Xiao Ren, kau perlihatkan kakekmu ini, fokuskan pikiranmu seolah kau bisa merasakan semuanya, rasakan setiap energi mengalir di dalam tubuhmu."
Liu Ren mulai mempraktikkannya, matanya terpejam dan pikiranya terpokus, pada awalnya Liu Ren tidak merasakan apa apa, tapi kemudian aliran darahnya bergerak cepat lalu dia mulai bisa merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya dari balik pori pori tubuhnya, perasaan itu membuatnya gembira, setelah itu gadis kecil itu membuka matanya dengan ekspresi kagum. "wow!!, kakek aku merasa ada hal yang berbeda pada diriku".
sang kakek hanya bisa tersenyum lalu mengangguk. "baguslah gadis kecil, tampaknya kau sangat berbakat, bisa membuka tahap pertama dalam kultivasimu." sang kakek tidak bisa menghilangkan perasaan gembira mengetahui bahwa gadis kecil ini memiliki bakat yang luar biasa, hanya dalam beberapa menit bisa langsung membuka tahap awal Kultivasi, itu mengingatkan dirinya saat masih muda, butuh beberapa hari untuk menyadari perubahan itu.
"kakek... apa itu tahap awal?" sang kakek terpecah dari lamunanya, dia menatap Liu kecil sambil mengusap janggutnya yang panjang. "tahap awal itu adalah tingkatan bagi seorang Kultivator di seluruh dunia, atau di sebut Ranah"
mata Liu kecil berbinar mendengar informasi itu lalu mulai menanyakan hal hal yang tak ia ketahui. "begitu ya .... kalau begitu jika aku berada di tahap awal, apa Ranah Kultivasiku sekarang kakekk?."
sang kakek menatapnya lalu tersenyum. "jangan terlalu senang gadis kecil, kau baru saja membuka Ranah pertama yaitu Mortal Realm."
fakta itu membuat Liu kecil bingung. "Mortal Realm?, apa itu artinya aku masih lemah?"
ucap Liu kecil sambil menghela nafas sedih, lalu sang kakek menguaao rambutnya pelan. "jangan khawatir, seiring kau berusaha dan berlatih lebih kuat, kau bisa lebih kuat lagi."
Liu kecil hanya bisa menghela nafas dan mengangguk. "baiklah, baiklah, aku akan berlatih lebih keras lagi."
singkatnya, Liu kecil dan sang kakek pergi kembali ke rumah Liu kecil dan membiarkannya beristirahat, tetapi saat sang kakek pergi, Liu kecil diam diam menyelinap pergi dari rumahnya, dia diam diam pergi ke sebuah gua gunung yang ada di desanya, lalu masuk ke dalam Gua. "aku ingin kuat dengan caraku sendiri, aku tidak ingin menjadi lemah."
Liu kecil masuk ke dalam Gua lalu dia menemukan batu besar di tengah Gua, dia bisa merasakan aliran energi spiritual yang melimpah,berkat pertumbuhannya dia bisa merasakan energi spiritual itu. "sungguh energi spiritual yang pekat" Liu kecil bergegas duduk di atas batu besar itu, dia memejamkan matanya lalu mulai bermeditasi.
singkatnya 3 hari berlalu semua orang di desa panik dan mencari kemana mana karena Liu kecil menghilang, sang kakek terus mencari ke tempat yang berkemungkinan sering di datangi Liu kecil, namun tetap tidak menemukannya. "kemana kau pergi Xiao Ren" sang kakek menangis karena khawatir dengan keadaan Liu kecil, lalu yang lainya menemani sang kakek di sisinya dan menenangkannya. "jangan khawatir kami akan terus mencarinya kemanapun" paman Pang Man mengusap bahu sang kakek sambil menenangkannya,
lalu di sini lain anak anak kecil atau teman temanya Liu Kecil melihat ada sebuah cahaya di Gua belakang Rumah sang kakek, semua orang bergegas pergi ke arah Gua itu, mereka melihat cahaya emas yang murni yang muncul dari balik Gua. "apa yang terjadi" Gumam orang orang di sana.
saat sebelum semua peristiwa itu di proses, dari dalam gua terjad ledakan, cahaya emas itu berhamburan keluar lalu debu dan batu batu beterbangan, namun untungnya hanya skala ledakan kecil dan tidak melukai atau merusak apapun, saat debu perlahan-lahan menghilang, seseorang keluar dari dalam Gua. "siapa itu?, apa itu dewa?"
semua orang bergumam menunggu implikasi apa yang akan terjadi. "tidak itu, itu Xiao Ren"
semua orang menarik nafas terkejut saat melihat Liu kecil, mereka yang mengira dia menghilang ternyata selama ini ada di Gua di dekat rumah sang kakek, saat sang kakek senang melihat Liu kecil tidak kenapa kenapa, dia melihat ada perubahan pada dirinya. "tunggu, kau melakukan trobosan? dalam 3 hari sudah mencapai Ranah Body purification?, sungguh bakat yang luar biasa." sang kakek berjalan ke arah Liu kecil lalu melihat kondisinya dengan seksama. "aku baik baik saja kakek." ucap Liu kecil sambil berjalan pelan dan senang ke arah teman temannya, lalu pergi bermain begitu saja."tempaknya kita memiliki keluarga dengan bakat yang luar biasa di sini"
ucap laki laki kekar di samping sang kakek. "benar, kita tidak boleh menyia nyiakan bakatnya" ucap lelaki di depan sang kakek.
"kalian ini terlalu berlebihan,dia masih anak anak yang masih perlu di beri kasih sayang, bukan rintangan." sang kakek menghela nafas lalu berjalan pergi dengan perlahan, sembari memikirkan Liu kecil yang memiliki bakat yang luar biasa ini.
