Cherreads

Chapter 11 - BAB 11 - Pertemuan Kedua

Hyun-woo mengirim pesan ke Jun-hee pukul sepuluh pagi.

Singkat, seperti biasanya: "Ada waktu hari ini? Perlu bicara tentang tower."

Balasan datang dalam dua menit — kecepatan yang menunjukkan Jun-hee sudah menunggu pesan ini atau setidaknya sudah mengantisipasi kemungkinannya.

"Jam dua. Kedai yang sama."

Hyun-woo meletakkan ponselnya dan kembali ke apa yang ia lakukan sebelumnya: duduk di meja kamarnya dengan tiga lembar kertas di depannya, masing-masing berisi diagram energi yang ia gambar dari memori tentang karakteristik tiap lantai Tower B-7 yang sudah ia jelajahi. Bukan untuk laporan aliansi — untuk dirinya sendiri. Cara ia memproses informasi yang terlalu kompleks untuk disimpan hanya dalam kepala.

Kakeknya masuk tanpa mengetuk.

"Kamu mau ketemu Awakened itu lagi," kata Cheon-oh. Bukan pertanyaan.

"Ya."

"Dewan tahu?"

"Ha-eun tahu."

Cheon-oh duduk di tepi kasur Hyun-woo — gerakan yang membuat kasur itu mengeluarkan suara protes — dan menatap diagram di meja dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

"Hati-hati," katanya akhirnya.

Hanya itu.

Dari Baek Cheon-oh, dua kata itu setara dengan pidato panjang dari orang lain.

"Mengerti," jawab Hyun-woo.

Jun-hee dan Yeon-ji sudah ada di kedai ketika Hyun-woo tiba — sepuluh menit lebih awal dari yang dijanjikan, yang menunjukkan keduanya punya lebih banyak pertanyaan dari yang mereka akui dalam pesan singkat.

Yeon-ji memesan minuman yang sama seperti dua hari lalu. Jun-hee sudah memegang kopi hitamnya. Hyun-woo memesan teh putih dan duduk di kursi yang menghadap pintu — kebiasaan yang kakeknya tanamkan: selalu tahu siapa yang bisa masuk.

"Kamu sudah bicara ke siapa tentang malam itu?" tanya Hyun-woo tanpa pembukaan.

Jun-hee dan Yeon-ji bertukar pandang.

"Laporan resmi ke guild," kata Jun-hee. "Standar. Tentang kamu — aku tulis 'individu sipil yang membantu evakuasi dengan kemampuan bela diri tidak standar.' Tidak lebih."

"Aku tulis yang sama," kata Yeon-ji. "Plus sembilan pelanggaran protokol yang aku akui sendiri supaya tidak ada yang tanya terlalu banyak tentang bagian lainnya."

Hyun-woo mengangguk. "Bagus."

"Sekarang," kata Jun-hee dengan nada yang sudah selesai dengan basa-basi, "kamu bilang perlu bicara tentang tower. Bicara."

Hyun-woo meletakkan tiga lembar diagram di atas meja.

Jun-hee dan Yeon-ji menunduk melihatnya. Beberapa detik keheningan saat keduanya memproses apa yang mereka lihat — bukan peta biasa, bukan sketsa kasar. Diagram energi yang terlalu detail dan terlalu akurat untuk digambar oleh seseorang yang mengaku baru pertama kali masuk tower.

"Ini karakteristik energi tiap lantai yang sudah aku jelajahi," kata Hyun-woo. "Lantai satu sampai tiga belas. Plus estimasi untuk lantai empat belas berdasarkan apa yang aku rasakan dari bawah."

"Estimasi," ulang Yeon-ji. "Kamu bisa estimasi lantai yang belum kamu masuki."

"Dari resonansi energinya, ya."

Jun-hee mengangkat salah satu lembar dan memeriksanya lebih dekat. "Ini... sangat berguna. Guild manapun yang eksplorasi tower ini berikutnya bisa menggunakan ini untuk menyiapkan komposisi tim yang lebih tepat."

"Itulah tujuannya," kata Hyun-woo. "Tapi ada hal yang lebih penting yang perlu kamu tahu sebelum siapapun masuk lagi."

Ia cerita tentang lantai empat belas.

Tidak semua — ada bagian yang menyangkut aliansi yang ia tidak bisa dan tidak akan bagikan. Tapi tentang sifat entitas yang ada di lantai itu, tentang bagaimana ia berbeda dari semua yang ada di bawahnya, tentang fakta bahwa ia bukan Champion dalam klasifikasi yang ada, ia ceritakan dengan cukup detail untuk berguna.

Jun-hee mendengarkan tanpa interupsi.

Yeon-ji mendengarkan sambil sesekali menggigit sedotan minumannya dengan cara yang menunjukkan ia sedang memproses sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman.

Ketika Hyun-woo selesai, keheningan pertama yang mengisi meja mereka bukan keheningan evaluasi.

"Kamu akan masuk lagi," kata Jun-hee. Bukan pertanyaan.

"Dua hari lagi."

"Sendirian?"

"Tidak."

Jun-hee mempertimbangkan ini. "Kultivator lain?"

"Ya."

"Berapa kuat?"

Hyun-woo memikirkan Ha-eun — tiga ratus tahun usia, pemimpin Clan Seol, kemampuan peramalan yang sudah terbukti selama berabad-abad. "Cukup."

"Itu bukan jawaban yang spesifik."

"Tidak," setuju Hyun-woo.

Yeon-ji meletakkan sedotannya. "Aku mau ikut."

Dua kepala berpaling ke arahnya bersamaan.

"Aku serius," kata Yeon-ji. Nada yang tidak biasa darinya — lebih keras dari ironi ringannya yang biasa, lebih langsung dari cara ia biasanya menyampaikan sesuatu yang penting. "Kamu bilang entitas di lantai empat belas berbeda dari klasifikasi yang ada. Itu artinya guild manapun yang masuk berikutnya tanpa informasi ini akan dalam bahaya. Iron Vanguard punya kepentingan langsung — kita spesialis evakuasi dan support. Kalau ada yang salah di dalam tower itu, orang-orang kita yang akan dipanggil pertama."

"Argumentasinya valid," kata Hyun-woo.

"Tapi?" tanya Yeon-ji.

"Tidak ada 'tapi'. Argumentasinya valid."

Yeon-ji tampak sedikit tidak siap dengan jawaban itu. Ia jelas sudah menyiapkan argumen lanjutan untuk mengatasi penolakan yang tidak datang.

Jun-hee menatap Hyun-woo. "Dan aku?"

"Rank-mu A-plus," kata Hyun-woo. "Pengalaman lapanganmu di tower lebih dari siapapun di meja ini. Kalau sesuatu di lantai empat belas lebih dari yang bisa aku dan pengamatku tangani — kehadiran Awakened rank tinggi bisa menjadi perbedaan antara mundur terkontrol dan tidak kembali sama sekali."

Jun-hee diam cukup lama.

"Kamu baru saja mengundang kami," katanya akhirnya.

"Aku baru saja menyampaikan kalkulasi," koreksi Hyun-woo. "Keputusannya ada di kamu."

"Bedanya tipis sekali."

"Tapi ada."

Jun-hee mengambil kopi hitamnya. Minum. Meletakkan kembali dengan gerakan yang menunjukkan keputusan sudah dibuat sebelum cangkir itu menyentuh meja lagi.

"Aku masuk," katanya.

"Aku juga," kata Yeon-ji, yang sudah jelas sudah memutuskan ini sejak lima menit yang lalu.

"Baik," kata Hyun-woo. "Dua hari lagi, pukul delapan pagi, di depan Tower B-7. Bawa perlengkapan untuk eksplorasi lantai lima belas ke atas — bukan untuk bertarung, untuk bertahan."

"Beda," kata Yeon-ji.

"Sangat beda," konfirmasi Hyun-woo.

Bersambung.....

More Chapters