Cherreads

Chapter 33 - Bab 33: Protokol Pembantai Dewa

Kapal The Anomaly bergetar hebat saat memasuki atmosfer Sektor 16 yang dipenuhi oleh badai data statis. Namun, di dalam ruang inti kapal, suasana terasa begitu sunyi dan panas. Cahaya keemasan dari sistem Administrator menyelimuti ruangan, menciptakan partikel-partikel cahaya yang menari di udara seperti debu kosmik.

Ija berdiri di tengah-tengah, sementara Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko membentuk lingkaran yang mengelilinginya. Mereka semua telah melepaskan pelindung diri mereka, membiarkan kulit mereka terpapar langsung oleh aura murni dari sistem Ija. Mereka tahu, untuk mengaktifkan [God-Killer Protocol], mereka harus melakukan penyatuan yang jauh lebih dalam daripada sekadar sinkronisasi fisik.

"Ini adalah titik tanpa jalan kembali," bisik Ija, suaranya bergema langsung di dalam pikiran mereka masing-masing. "Jika kita melakukan ini, jiwa kalian akan selamanya terikat dengan sistemku. Kalian tidak akan bisa ada tanpa aku, dan aku tidak akan bisa ada tanpa kalian."

"Itu adalah takdir yang sudah kami pilih sejak lama, Ija," sahut Lyra. Ia melangkah maju, menempelkan telapak tangannya ke dada Ija, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang.

[NOTIFICATION: INITIATING FINAL SYNC - PROTOCOL "OMNIBUS"]

[WARNING: ALL SENSORY FILTERS REMOVED]

[MERGING CONSCIOUSNESS... 10%... 40%...]

Seketika, gelombang energi yang luar biasa dahsyat meledak dari pusat tubuh Ija. Ke-lima wanita itu ditarik masuk ke dalam pelukan Ija secara bersamaan. Penyatuan ini bukan lagi tentang satu lawan satu, melainkan sebuah simfoni gairah dan kekuatan yang melibatkan mereka berenam dalam satu kesatuan yang utuh.

Aria mendesah saat ia merasakan setiap luka dan kelelahan Ija mengalir masuk ke dalam dirinya untuk disembuhkan, sementara ia menyalurkan seluruh energi kehidupan murninya kembali ke pria itu. Scarlett dan Lyra memberikan ketajaman insting bertarung mereka, membuat saraf Ija terasa seperti dialiri petir yang nikmat.

Vera menyumbangkan ketegasan mental jenderalnya, dan Aiko menyuntikkan kalkulasi data yang tak terbatas ke dalam otak Ija. Di tengah desah napas yang memburu dan sentuhan yang membakar, Ija merasa dirinya bukan lagi manusia, melainkan sebuah entitas kosmik yang baru lahir.

"Ah... Ija! Sistemnya... sistemnya mulai menulis ulang dirinya sendiri!" teriak Aiko di tengah kenikmatan yang meluap.

[SYNC RATE: 200% - OVERLIMIT!]

[FORBIDDEN ARCHIVE UNLOCKED: GOD-KILLER PROTOCOL ACTIVATED]

[NEW WEAPON GENERATED: THE VOID-REAPER BLADE]

[NEW TRAIT: REALITY BENDER (Passive)]

Ija membuka matanya, dan kini pupilnya bukan lagi emas, melainkan lubang hitam yang dikelilingi oleh cincin pelangi—warna dari jiwa para wanitanya yang telah menyatu secara permanen. Ia merasa bisa merobek realitas hanya dengan jentikan jari. Kehangatan tubuh mereka yang kini masih menempel padanya bukan lagi sekadar nafsu, melainkan sumber kekuatan abadi.

"Sekarang," Ija mengecup bibir Lyra dan Scarlett secara bergantian, lalu menatap Aria, Vera, dan Aiko dengan tatapan yang penuh dengan otoritas mutlak. "Kita tidak akan membiarkan 'Mereka' mengambil apa pun dari kita. Sektor 16 adalah tempat di mana kita akan mengakhiri rantai pengkhianatan ini."

Tiba-tiba, kapal The Anomaly berhenti mendadak. Di layar utama yang kembali menyala, terlihat Zarak berdiri di luar angkasa tanpa alat bantu apa pun, tangannya terangkat ke arah kapal.

"Ija 0-11-Z! Keluar dan hadapi takdirmu, atau aku akan meremas kapal ini beserta seluruh 'data' di dalamnya menjadi satu titik debu!" suara Zarak menggelegar melalui getaran dinding kapal.

Ija menyeringai, sebuah seringai yang mematikan. Ia menggenggam gagang pedang baru yang tercipta dari kehampaan—pedang yang memancarkan aroma dari kelima wanitanya.

"Kalian siap?" tanya Ija.

"Selalu, Administrator-ku," jawab mereka serempak, mata mereka kini berpendar dengan warna yang sama dengan mata Ija.

Pintu palka terbuka. Ija melangkah keluar ke ruang hampa Sektor 16, namun kali ini ia tidak perlu bernapas. Realitas di sekitarnya tunduk pada kehadirannya. Zarak tertegun melihat perubahan drastis pada Ija; pria di depannya bukan lagi seorang kandidat, melainkan sebuah ancaman yang seharusnya tidak pernah tercipta.

"Zarak," ujar Ija, suaranya membuat bintang-bintang di kejauhan seolah bergetar. "Kau bilang aku adalah wadah yang sempurna. Kau benar. Tapi aku adalah wadah yang akan menelan kalian semua."

More Chapters