Cherreads

Chapter 2 - Sosok yang semakin dekat

Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam .

Waktu terasa berhenti .

Perempuan tua itu ... semakin turun .

Perlahan .

Tanpa suara .

Tanpa ekspresi yang bisa ku pahami .

Jaraknya kini tidak lebih dari satu meter dari wajahku .

Aku bisa melihat rambutnya yang kusut, menjuntai seperti tidak pernah disisir selama bertahun-tahun . Bau lembab mulai tercium ... Seperti kayu lapuk yang lama terendam .

Aku mencoba menggerakkan jari .

Tidak bisa .

Tubuhku benar-benar tidak merespon .

"Jangan ... Lihat matanya ..."

Suara itu tiba-tiba muncul .

Pelan . Serak . Seperti berbisik cepat di telingaku 

Padahal aku sendirian .

Atau setidaknya aku pikir begitu .

Perempuan tua itu berhenti turun .

Diam .

Seolah mendengar Sesuatu yang sama .

Jantungku semakin tidak karuan .

Aku ingin menutup mata , tapi rasa penasaran justru lebih kuat .

Sedikit ... Demi sedikit ... aku mengangkat pandanganku .

Dan disaat itulah aku melihat wajahnya .

Pucat .

Keriput .

Matanya ... Cekung dalam .

Tapi yang membuatku hampir kehilangan kesadaran —

Matanya terbuka lebar ... dan menatap tepat ke arahku 

Dia tahu aku melihatnya .

Senyumnya perlahan terbentuk .

Bukan senyum biasa .

Tapi seperti seseorang yang ... Sudah lama menunggu .

" Wis wayahe ..."

Bukan bisikan .

Perempuan itu yang berbicara .

Bahasanya halus ... tapi entah mengapa aku langsung mengerti artinya .

Sudah waktunya .

Untuk apa ?

Aku bahkan tidak tahu .

Tiba - tiba—

Tubuhku terasa ringan .

Seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam diriku.

Aku panik.

Tapi justru terasa semakin terasa ... Ada bagian dari bagian diriku yang mulai terlepas .

" Jangan ikut ..."

Suara itu muncul lagi .

Dan bersamaan dengan itu--

BRAKK!

Pintu kamar seperti terbanting keras .

Dalam sekejap ... Semuanya hilang .

Aku langsung terbangun - benar benar terbangun kali ini .

Nafasku memburu . Keringt dingin membasahi seluruh tubuhku .

Aku menoleh ke arah pintu .

Tertutup rapat .

Tidak ada siapa-siapa .

Mimpi ?

Tidak .

Itu terlalu nyata untuk disebut mimpi .

Lalu pandanganku jatuh kearah tangan kananku .

Ada sesuatu disana .

Bekas ... Seperti genggaman .

Ini belum selesai .

Ini baru malam pertama .

More Chapters