Di sebuah desa kecil, yaitu desa bambu yang jauh dari perang dan kekejaman dunia luar, terdapat sebuah desa yang tenang dan damai. Semua orang saling membantu dan menjaga satu sama lain. Mereka mencari makanan dengan berburu, menggunakan kapak batu dan pedang batu. Desa ini dipimpin oleh seorang pria paruh baya berusia delapan puluh lima tahun, sebagai pelindung desa tersebut.
Di sisi lain, sepasang suami istri muda berada di Kerajaan Tianluo, sebuah kekaisaran yang telah mendominasi wilayah timur selama lebih dari seratus ribu tahun.
Pasangan suami istri itu bernama Liu Xanxie dan Zang Xue. Mereka mendapat misi untuk mengambil sebuah pusaka ilahi yang turun ke alam bawah. Dalam perjalanan dan misi mereka, mereka lupa bahwa Liu Xanxie sedang mengandung anak yang telah berusia delapan bulan."Xanxie seharusnya kau tidak perlu ikut dalam misi ini." ucap Zang Xue dengan tatapan khawatir.
"tidak apa apa, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian menjalankan misi berbahaya yang bahkan tidak kita ketahui."
kata Xanxie dengan senyum tulus di wajahnya, membuat Zang Xue bimbang.
"kau sudah tahu bahwa mereka sudah merencanakan ini untuk menyingkirkan kita, kenapa kau harus ikut".
Zang Xue menggertak giginya karena marah tapi tidak bisa berbuat apa apa pada keluarga kerajaan Tianluo.
"aku tahu, tapi jika aku tetap diam di kerajaan,kemungkinan lebih buruk akan menimpaku, dari pada aku mati begitu saja di tangan mereka, aku lebih baik hidup dan mati denganmu Zang Xue." ekspresi ketulusan, cinta dan kasih sayang dan Xanxie membuat Zang Xue lemah, dan juga jadi penyebab utama dari kelemahannya. "baik" setelah itu, Zang Xue dan Xanxie menaiki kuda mereka lagi lalu berjalan pergi bersama ke tanah terlarang, mereka melakukan perjalanan 3 hari 3 malam untuk sampai ke tanah terlarang, setelah mereka sampai dii tanah terlarang, mereka berdua memasuki tempat yang dahulu disebut sebagai jalur kenaikan abadi, karena banyak ahli kuat yang masuk ke sana namun tidak pernah kembali. Di pintu masuk tanah terlarang itu, Zang Xue merasakan firasat buruk. Ia meyakinkan Liu Xanxie untuk menunggu di luar.
“Lebih baik aku memeriksanya terlebih dahulu. Tunggu aku keluar. Jika situasinya aman, kita bisa masuk bersama.”
Setelah itu, Zang Xue memasuki tanah terlarang. Begitu masuk, ia langsung disuguhi pemandangan yang mengerikan—banyak mayat berserakan dan bau darah yang masih segar menusuk hidung. Zang Xue menutup mulutnya sambil menahan rasa mual.
“Hfff... apa ini...”
Zang Xue terus melangkah lebih dalam dengan langkah perlahan dan penuh kewaspadaan. Hingga ia menemukan sebuah tengkorak yang memancarkan kekuatan ilahi yang aneh. Ia mendekatinya, dan saat menyentuhnya, tengkorak itu meledak. Ledakan itu memicu ledakan lain, dan mayat-mayat di sekitarnya ikut meledak secara besar-besaran.
Ia berlari keluar dengan susah payah, hampir kehilangan nyawanya. Namun di ujung pintu, Liu Xanxie sudah menunggunya. Ia bersiap dengan sikap waspada untuk menyambut Zang Xue. Namun siapa sangka, tiba-tiba sebuah pedang menembus dada Liu Xanxie. Darah muncrat, ia batuk darah, dan perlahan kesadarannya mulai menghilang.
“Tidak, Xanxie!!” teriak Zang Xue histeris.
Ia berlari cepat, mengabaikan ledakan mayat di sekelilingnya. Ia mendekati Liu Xanxie yang telah tak sadarkan diri. Sementara itu, Zang Xue sendiri telah terluka parah dan kehabisan kekuatan ilahinya. Dalam keadaan putus asa, Zang Xue menggunakan teknik terlarang ia mengorbankan nyawanya untuk mengirim istrinya ke desa bambu.
Dengan seluruh kekuatannya, ia berhasil mengirim Liu Xanxie ke desa tersebut. Namun, Zang Xue harus mati dan menghilang bersama ledakan mayat-mayat itu.
“Setidaknya dia bisa selamat... maafkan aku, Xanxie...”Dengan napas terakhirnya, Zang Xue pun lenyap.
Di desa bambu, tiba-tiba seseorang muncul dari portal teleportasi, lalu jatuh ke tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tetua desa segera mendekat, dan orang-orang mulai panik. Saat mengetahui siapa orang itu, ternyata dia adalah menantunya, Liu Xanxie.
Dengan cepat, sang tetua membawa Liu Xanxie ke dalam rumah untuk dirawat oleh para tabib ahli. Singkat cerita, beberapa minggu kemudian Liu Xanxie terbangun dan mulai sadar.
Sang tetua memandangnya dengan cemas.
“Xanxie, apa yang terjadi padamu? Di mana Zang Xue?”
Liu Xanxie terdiam. Ia mengingat kejadian itu seolah-olah itu adalah peristiwa terburuk dalam hidupnya.
“Dia.... dia sudah mati.”
Suaranya penuh kesedihan, air matanya tak terbendung. Sang tetua pun jatuh berlutut lemah saat mendengarnya, lalu menangis pilu, Xanxie hanya bisa melamun dalam keadaan hidupnya seolah tak punya tujuan,namun di tengah kesedihan itu, perut Liu Xanxie tiba-tiba terasa sangat sakit, dia mengerang sambil memegang kasur dengan sekuat tenaga, sang kakek dengan panik dia menggunakan teknik penyembuhannya untuk sementara dia mengurangi rasa sakit yang xanxie alami, namun xanxie masih merasakan sakit yang luar biasa,Ia mulai tidak mampu menahan rasa sakitnya.
Dalam kepanikan, sang kakek segera memanggil tabib ahli untuk mengobatinya.
