Di tengah situasi panik, para tabib di desa bambu segera datang dan bertindak cepat. “Jangan khawatir, kami akan menanganinya secepat mungkin.” Peri penyembuh kecil mencoba menenangkan sang tetua dan memintanya menunggu di luar. “Aku harap dia baik-baik saja.”
Semua orang menghela napas dengan sedih, menunggu dengan cemas di luar rumah. Sementara itu di dalam, para peri penyembuh memeriksa kondisi Liu Xanxie. Namun mereka terkejut oleh sebuah kejadian yang luar biasa ternyata Liu Xanxie akan melahirkan. “Cepat, kita harus segera membantu persalinannya!”
Semua peri penyembuh bergegas membantu proses kelahiran, namun selama proses persalinan itu, energi kehidupan Xanxie seolah terkuras, peri penyembuh itu mulai sadar ada yang salah, saat melihat ke perut Xanxie lebih jelas, ternyata ada sebuah tanda kutukan yang aneh. "ini... ini tanda kutukan, bagaimana bisa?." para peri penyembuh itu saling bertatap tatapan, namun Xanxie berbicara sambil menahan sakit. "tidak apa, apapun yang terjadi anakku, darah dagingku harus lahir dengan sehat, aku bisa menahan segel yang di berikan oleh kerajaan Tianluo ini, tapi aku hanya bisa bertahan beberapa menit saja." ucap Xanxie sambil tergesa gesa, lalu para peri penyembuh itu segera mulai menyalurkan kekuatan mereka untuk membantu menekan segel kutukan itu, lalu setelah beberapa saat, segel itu akhirnya bisa di tekan, setelah itu para peri penyembuh segera melakukan persalinan,dalam beberapa menit lamanya sekitar 45 menit berlalu , terdengar suara tangisan bayi. Sang tetua dan para kerabat terkejut mendengar suara bayi itu. “Siapa yang melahirkan?” Sang tetua bergegas menuju rumah tempat Liu Xanxie dirawat sebelumnya. “Nak, apakah kamu baik-baik saja?”
Dalam kepanikan, ia berlari tanpa memedulikan tubuh tuanya. Saat masuk, ia terkejut melihat para peri penyembuh dan Liu Xanxie yang sedang menggendong bayinya. “Demi para dewa, kau benar-benar melahirkan...”
Liu Xanxie hanya bisa tersenyum lemah. “Kakek, aku ingin memberi nama pada anak ini, aku dan Zang Xue sebelumnya sudah menyiapkannya”
Sang tetua mengangguk, ia menggendong cucunya."kalau begitu siapa nama bayi kecil ini?." sang kakek lalu menoleh ke arah Liu Xanxie. "namanya Liu Ren, mewakili belas kasih dan kasih sayang, aku harap Liu Ren menjalani kehidupan yang bahagia." suara Xanxie melemah lalu tangannya ambruk ke sampingnya lalu dia menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya, sang kakek yang melihat itu sangat terkejut saat melihat kematian Xanxie di depan matanya,wajah Liu Xanxie pucat seketika dan cahaya murni yang selama ini menyinari wajahnya hilang. Para peri penyembuh segera memeriksa kondisinya, lalu mereka semua menghela napas panjang. “Dia telah pergi...”
Mendengar itu, sang tetua tak mampu menahan kesedihannya yang mendalam. Ia telah kehilangan kedua anaknya, dan kini satu-satunya warisan yang tersisa adalah bayi yang baru lahir ini.
Dengan ekspresi sedih, sang tetua mengusap wajah kecil cucunya. “Anak kecil, mulai sekarang kakek akan merawatmu, tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun.”
sang kake berjalan keluar dari rumah lalu semua orang yang menunggu di luar menatap dengan heran, namun tidak ada yang berani bertanya apa yang terjadi, sang kakek menatap langit seolah mempertanyakan kenapa dunia ini sangat tidak adil bagi anak anak bahkan bagi cucunya. lalu sang kakek menatap ke orang orangnya dan berkata. . “Anak ini adalah bagian dari keluarga kita.”
Enam tahun telah berlalu. Waktu terasa berjalan begitu cepat bagi penduduk desa bambu. Tak terasa, anak yang dulu kecil dan tak berdaya kini telah tumbuh besar dan mampu melakukan banyak hal. Ia selalu pergi bersama pamannya dan para tetua lainnya untuk berburu. Meskipun masih kecil, ia dapat memanah dengan sangat akurat.
Bukan hanya seorang anak jenius, anak ini juga sangat cantik meskipun usianya masih muda. Pada siang hari, Liu Ren berlatih bersama teman-temannya di bawah pengawasan pamannya, Pang Man. “Lebih keras lagi! Binatang buas tidak akan memberi ampun saat kau berada di alam liar.”
“Hmph... kenapa paman terlalu keras pada seorang gadis? hmmf..Bukankah kalian saja yang seharusnya mencari makanan?” raut wajah cemberut Liu Ren menunjukkan sikap membangkangnya.
Kemudian Pang Man menatap Liu Ren dengan senyum hangat untuk menenangkannya.
“Liu kecil, memiliki kekuatan adalah hal yang wajib bagi semua orang untuk bertahan hidup, baik laki-laki maupun perempuan.”
Meski masih ada sedikit penolakan, Liu Ren akhirnya mengangguk setuju. Tekad kembali menyala dalam dirinya. Ia memandang Paman Pang Man dengan penuh semangat. “hmmf .... aku ingin melindungi orang-orang yang berharga bagiku. Jadi, kalau aku menjadi kuat, bisakah aku melindungi semua orang?”
Paman Pang Man tersenyum dan mengangguk, melihat semangat serta ambisi gadis kecil itu. "tentu saja, selama kamu berlatih dengan keras, kau bisa melindungi semuanya."
